Perubahan Kebijakan MBG perlu kehati-hatian dan terukur

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan Program Prioritas Presiden Prabowo telah dimulai sejak awal tahun 2025. Melalui pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pengendali, Program MBG telah menyentuh 55 juta penerima manfaat melalui 19.188 unit dari target 31.000 unit Satuan Pelayanan Gizi (SPPG). Program yang memakan anggaran besar masih saja didera berbagai polemik mulai dari isu kelembagaan, isu anggaran, dan keracunan pangan, namun isu yang paling krusial adalah terkait bagaimana perbaikan Program MBG untuk menjamin pemenuhan gizi dapat tercapai dengan aman dapat berlaku dan berkelanjutan.

Berbagai gagasan mengemuka, salah satunya adalah memanfaatkan kantin sekolah sebagai pelaksana Program MBG. Gagasan ini mengemuka untuk menekan kejadian makanan udi tingkat sekolah atau penerima manfaat.

Mengomentari gagasan ini, H. Ramli selaku penanggung jawab Dapur SPPG Mulia 2, dibawah Yayasan Gizi Utama Nusantara menyampaikan gagasan memindahkan kelembagaan dan pengelolaan layanan MBG saat ini harus hati-hati dan terukur jika semua pihak sepakat bahwa sasaran utama dari isu yang berkembang adalah menjamin keamanan makanan pada tingkat penerima manfaat.

Ada beberapa alasan, pertama adalah tidak mudah melakukan perubahan pengelolaan disaat program masih berjalan, terutama memindahkan layanan dari 19.000 unit SPPG ke kantin sekolah. Pergeseran ini artinya memulai lagi persiapan infrastruktur dapur yang layak dan memenuhi standar, persiapan management, pelatihan staf, mengatur ulang supply bagan pangan dan seterusnya tentunya ini akan memakan waktu dan biaya serta intensitas perhatian yang cukup besar pula.

Alasan lainnya perlu pemikiran yang hati-hati dan terukur adalah, kantin sekolah saat ini berada pada ruang lingkup sekolah, yang merupakan satuan Pendidikan yang fokus memberikan akses dan kualitas Pendidikan. Tidak mudah memindahkan beban pelayanan makanan bergizi pada tingkat sekolah, dan bila terjadi sesuatu tentunya dapat menganggu proses pembelajaran siswa di sekolah. H. Ramli tidak menampik upaya perbaikan dalam layanan makan bergizi, karena beliau sendiri merasakan tidak mudah mengemban amanah menjalankan SPPG secara konsisten, perlu pembelajaran serius, perhatian yang intens, terutama menjaga ritme tim Dapur SPPG untuk dapat beroperasi dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *