Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus kehilangan daya tawar bahkan melampaui batas titik terendah sejak krisis 1998. Nilai Rupiah saat itu mencapai titik terendah pada rentang Rp16.650 hingga Rp16.900 per dolar AS. Saat artikel ini disusun Rupiah tersungkur hingga pada titik 17,666 per dollar Amerika. Setiap kali nilai tukar rupiah menembus batas baru maka akan membentuk pola respon yang beragam, namun terdapat pola yang cenderung menyamakan kondisi dengan krisis 1998. Apakah benar demikian? Krisis tahun 1998 telah berlalu 28 tahun, namun bagi sebagian pelaku ekonomi meninggalkan bekas mendalam. Bagi generasi saat ini baik sebagai birokrat dan terutama pengusaha harus mampu beradaptasi dengan kondisi yang ada ditengah gencarnya pemerintah memberikan pernyataan yang sejuk dan ditambah dengan berbagai aksi menopang berbagai kebijakan populis utamanya kebijakan BBM Subsidi.
Mari kita coba gali lebih dalam, bila kita lihat fundamental ekonomi yang diukur melalui cadangan devisa maka pada tahun 1998 tercatat pada rentang $ 14,4 Milyar hingga $ 17,4 Milyar, sedangkan saat ini berkisar pada angka $130 Milyar hingga $ 150 Milyar, artinya secara fundamental ekonomi Indonesia saat ini akan mampu bertahan dalam jangka panjang untuk menopang perekonomian. Mari kita lihat indikator makro ekonomi lainnya seperti Inflasi, dimana pada saat krisis tahun 1998 tingkat inflasi meroket hingga 77% sedangkan saat ini inflasi relatif terjaga pada titik 3,48%. Hampir setiap minggu pemerintah melalui Kemdagri bersama Pemerintah Daerah secara rutin melakukan evaluasi dan mengambil langkah-langkah diperlukan.
Marilah kita lihat nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terpuruk dari dari Rp2.500 ke angka Rp16.800 per dolar AS dalam waktu hampir satu. Sedangkan gambaran saat ini nilai tukar berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar Rupiah resmi menutup kalender perdagangan pada tahun 2024 di posisi Rp 16.157 per Dolar AS, dan saat ini Rupiah kembali tersungkur pada level terburuknya sepanjang sejarah di angka Rp 17.666.
Jika kita perhatikan pelemahan rupiah pada krisis 1998 terjadi melalui kombinasi krisisi keuangan di Kawasan Asia, keluarnya dana asing secara besar-besaran, tingginya utang luar negeri yang jatuh tempo hingga krisis politik, dan jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini yang didorong oleh sentiment global, konflik Iran – Amerika yang menghambat pasokan bahan bakar minyak dari selat Hormuz yang berdampak pada meningkatnya harga bahan baku fosil terebut.
Uraian di atas tentu saja memberikan perbedaan kontras antara krisis 1998 dengan kondisi saat ini dimana pemerintah masih sangat yakin mampu mengendalikan perekonomian, lalu pertanyaan selanjutnya apakah kondisi akan baik-baik saja? Tentunya hal ini sangat tergantung bagaimana peran pemerintah dalam menjaga kondisi perekonomian, mengawal stabilitas politik serta memainkan peran strategis dalam kancah global. Lalu bagaimana dengan masyarakat umum, tentunya perlu kecermatan dalam mengelola isi dompet, keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran perlu dijaga ditengah perubahan harga dan pasokan barang yang cenderung tidak stabil. Pastikan komponen pengeluaran rutin seperti pangan dan energi menjadi komponen utama belanja, selanjutnya komponen belanja pendidikan dan kesehatan juga perlu perhatian, sedangkan komponen lainnya perlu pertimbangan apakah belanja yang dibutuhkan atau hanya sebatas keinginan saja. Kecermatan dan kehati-hatian menjadi penting namun kebijaksanaan dalam pengeluaran merupakan bagian dari upaya kita beradaptasi dengan berbagai perubahan yang ada. Semoga kita dapat melewati tekanan kondisi ekonomi ini dan terus berupaya berkembang. [].
Rupiah Tersungkur, Mulailah Adaptasi Kelola Dompet




