Sebutan “Kepala Mazhab” mungkin terdengar tidak biasa dalam dunia seni rupa, khususnya kaligrafi. Namun, istilah tersebut muncul untuk menggambarkan posisi Said Akram yang dinilai telah memberikan warna baru dalam perkembangan kaligrafi kontemporer Indonesia.
Di tengah perkembangan seni lukis modern yang terus bergerak, Said Akram hadir dengan eksplorasi yang mempertemukan kekuatan aksara, bentuk visual, dan ekspresi artistik. Karya-karyanya dinilai tidak sekadar menampilkan keindahan tulisan Arab, tetapi juga menawarkan pendekatan visual yang memiliki karakter personal.
Sejumlah kurator dan pemerhati seni menyebut Said Akram sebagai salah satu seniman yang berada di barisan depan dalam pencarian corak baru kaligrafi Indonesia. Perjalanan kreatifnya bahkan dianggap telah melahirkan identitas visual yang cukup kuat untuk disebut sebagai sebuah mazhab.
Pandangan tersebut antara lain pernah disampaikan Didin Sirojuddin, pengamat senior kaligrafi Indonesia sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Kaligrafi Lemka. Sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan kaligrafi nasional, Didin Sirojuddin menyebut adanya sejumlah gaya personal yang lahir dari perjalanan para seniman kaligrafi Indonesia.
Menurut Didin, sedikitnya terdapat empat corak personal yang memberikan warna tersendiri terhadap perkembangan seni kaligrafi Indonesia.
Pertama, corak personal Amang Rahman, yang disebut sebagai Mazhab Amani.
Kedua, corak personal AD Pirous, yang disebut sebagai Mazhab Pirousi.
Ketiga, corak personal Said Akram, yang disebut sebagai Mazhab Akrami.
Keempat, corak personal Syaiful Adnan, yang disebut sebagai Mazhab Syaifuli.
Khusus untuk Mazhab Akrami dan Mazhab Syaifuli, Didin Sirojuddin memberikan istilah “al wahid min nau’ihi”, yang bermakna kurang lebih satu-satunya dan memiliki keunikan tersendiri.
Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kaligrafi tidak hanya berbicara tentang penguasaan teknik dan kaidah penulisan huruf Arab. Lebih jauh, kaligrafi juga dapat berkembang menjadi bahasa visual yang memiliki karakter dan identitas penciptanya.
Dalam konteks itulah, karya Said Akram mendapatkan perhatian. Eksplorasinya dalam kaligrafi kontemporer dinilai telah membuka ruang baru bagi aksara Arab untuk hadir dalam bentuk visual yang lebih bebas, eksperimental, dan dekat dengan perkembangan seni rupa modern.
Said Akram bahkan kerap ditempatkan sebagai salah satu pelopor kaligrafi kontemporer figural Indonesia, sebuah pendekatan yang mempertemukan unsur kaligrafi dengan bentuk figuratif dan ekspresi seni rupa.
Karena itu, sebutan “Kepala Mazhab” bagi Said Akram bukan semata-mata sebuah gelar personal. Istilah tersebut dapat dibaca sebagai gambaran atas pengaruh sebuah corak artistik yang dianggap memiliki karakter berbeda dan mampu menjadi rujukan dalam perkembangan kaligrafi kontemporer.
Pada akhirnya, apakah istilah “Kepala Mazhab” pantas disematkan kepada Said Akram, tentu menjadi ruang diskusi bagi para seniman, kurator, akademisi, dan pemerhati kaligrafi.
Namun satu hal yang sulit diabaikan: perjalanan Said Akram telah menjadi bagian dari dinamika panjang pencarian identitas dalam seni kaligrafi Indonesia.
Dari aksara yang awalnya menjadi medium tulisan, kaligrafi terus berkembang menjadi medium ekspresi. Dan dalam perkembangan itulah, Mazhab Akrami menjadi salah satu corak yang ikut mencatatkan namanya dalam perjalanan kaligrafi kontemporer Indonesia.
Lahirnya Mazhab Akrami dalam Kaligrafi Kontemporer












